Drainase Tertimbun Sisa Material Rehabilitasi SMAN 1 Tirawuta, Janji Pembersihan Belum Direalisasikan

oleh -29 Dilihat
oleh

Muarasultra.com, Kolaka Timur –  Masyarakat di Kelurahan Rate-Rate, Kecamatan Tirawuta, Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, mengeluhkan kondisi saluran drainase yang tertimbun sisa material bangunan dari pekerjaan rehabilitasi gedung SMAN 1 Tirawuta.

Drainase tersebut merupakan salah satu saluran air yang digunakan masyarakat setempat, terutama saat musim hujan. Warga khawatir timbunan material berupa pasir dan split yang berada di dalam saluran dapat menghambat aliran air dan berpotensi menyebabkan air meluap ke permukiman.

Pekerjaan rehabilitasi SMAN 1 Tirawuta berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pekerjaan tersebut menelan anggaran sebesar Rp5.750.400.000, bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2025, dengan waktu pelaksanaan 100 hari kalender, terhitung sejak 23 September 2025 hingga 31 Desember 2025.

Rehabilitasi SMAN 1 Tirawuta merupakan bagian dari program strategis nasional (PSN) pemerintah pusat yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Di Sulawesi Tenggara, program rehabilitasi sekolah tersebut dilaksanakan di empat lokasi, yakni Kabupaten Muna, Kota Baubau, Kabupaten Kolaka di Pomalaa, dan Kabupaten Kolaka Timur di Tirawuta.

Namun, penyelesaian pekerjaan di SMAN 1 Tirawuta disebut mengalami keterlambatan hingga melampaui tahun anggaran pelaksanaan. Pekerjaan tersebut baru dinyatakan rampung sekitar akhir Mei hingga awal Juni 2026.

Persoalan kemudian muncul karena sisa material pekerjaan masih menimbun saluran drainase di sekitar lingkungan warga Kelurahan Rate-Rate.

Kepala Lingkungan I Kelurahan Rate-Rate, Sutiami, saat melakukan peninjauan lingkungan pada Sabtu (8/8/2026) siang, mengatakan kebersihan lingkungan menjadi perhatian warga, terlebih menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ia berharap pihak sekolah di wilayah tersebut, termasuk SMAN 1 Tirawuta, MTs Kolaka Timur, dan MIS, dapat bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan serta memasang bendera dan umbul-umbul dalam rangka menyambut HUT RI.

Menurut Sutiami, upaya menciptakan lingkungan yang bersih, asri, dan nyaman akan sulit terwujud apabila saluran drainase yang menjadi bagian penting bagi masyarakat masih tertimbun material sisa pekerjaan.

Ia mengaku sebelumnya telah menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak SMAN 1 Tirawuta, termasuk saat siswa sedang menjalani masa libur pada Juni 2026. Pihak sekolah, kata dia, diharapkan turut memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar sekolah.

“Bagaimana warganya nyaman kalau lingkungannya kotor, terutama drainase saluran air warga yang tertimbun sisa bahan material pekerjaan sekolah yang tak kunjung ditepati janjinya,” ujarnya.

Sutiami menambahkan, kondisi drainase yang tertimbun pasir dan split dikhawatirkan menghambat aliran air ketika hujan deras.

Kepala Kelurahan Rate-Rate, Hasrul, S.IP., M.M., mengatakan persoalan drainase tersebut sebelumnya telah dibahas dengan pihak pelaksana pekerjaan rehabilitasi SMAN 1 Tirawuta.

Menurut Hasrul, saat material pekerjaan mulai didatangkan, ia telah menemui pihak pelaksana untuk mempertanyakan kondisi drainase yang mulai terdampak dan tertimbun material.

Ia menegaskan bahwa pemerintah kelurahan tetap mendukung pembangunan sekolah sebagai bagian dari program pemerintah pusat. Namun, dukungan tersebut tidak berarti pembangunan dapat mengabaikan kepentingan masyarakat.

“Ini aset daerah. Meskipun kalian membangun di atas aset Provinsi Sultra dan bukan aset Koltim, kami tetap mendukung pembangunan sekolah, tetapi jangan sampai merusak. Apalagi ini drainase menyangkut kepentingan orang banyak,” kata Hasrul.

Ia menjelaskan, drainase tersebut merupakan saluran air yang digunakan warga. Apabila hujan deras dan saluran tidak berfungsi dengan baik, masyarakat di sekitar lokasi akan terdampak.

Atas persoalan tersebut, Hasrul mengaku telah membuat surat perjanjian di atas materai bersama pihak pelaksana pekerjaan. Surat tersebut saat ini masih tersimpan di Kantor Kelurahan Rate-Rate.

Dalam kesepakatan itu, pihak pelaksana disebut berkomitmen membersihkan drainase yang tertimbun sisa material setelah pekerjaan selesai.

Namun, hingga Sabtu (8/8/2026), komitmen tersebut belum direalisasikan.

“Dalam pernyataannya tempo hari, satu minggu setelah pekerjaan selesai baru dilakukan pembersihan drainase yang tertimbun sisa bahan bangunan. Hingga saat ini belum ada realisasinya,” ujarnya.

Hasrul juga menilai sejak awal pelaksanaan pekerjaan, pihak pelaksana seharusnya memperhatikan akses dan saluran air masyarakat. Menurutnya, jika material harus melewati drainase, seharusnya dibuat akses atau jembatan sementara agar tidak menimbulkan kerusakan dan penyumbatan.

Menurut keterangan warga dan pemerintah kelurahan, drainase tersebut merupakan bagian dari program PPK yang dibangun sekitar tahun 2005.

Saat ini, kondisi drainase dilaporkan mengalami kerusakan serta tertimbun material yang diduga berasal dari aktivitas pekerjaan rehabilitasi sekolah.

Pihak sekolah sebelumnya juga disebut telah mengetahui persoalan tersebut. Dalam pertemuan di area belakang sekolah, pihak sekolah menyampaikan akan membantu penyelesaian sisa persoalan setelah sekolah kembali aktif pascalibur, dengan melibatkan peserta didik dalam kegiatan kebersihan.

Namun, hingga kini pembersihan drainase belum terlaksana sebagaimana diharapkan warga dan pemerintah kelurahan.

Pemerintah Kelurahan Rate-Rate berharap pihak kontraktor pelaksana segera merealisasikan komitmen yang telah disepakati terkait pembersihan drainase.

Masyarakat juga meminta pihak sekolah dan kontraktor tidak hanya berfokus pada penyelesaian bangunan, tetapi juga memperhatikan dampak pekerjaan terhadap lingkungan sekitar.

Program pembangunan, kata Hasrul, pada prinsipnya didukung oleh pemerintah kelurahan dan masyarakat. Namun, pelaksanaannya diharapkan tetap memperhatikan fasilitas umum yang digunakan warga.

“Dalam proses pekerjaan kami sebagai pemerintah setempat bersama masyarakat mendukung program pemerintah pusat, dalam hal ini program strategis nasional (PSN),” ujarnya.

Awak media ini telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Kepala SMAN 1 Tirawuta, Akbar, di lingkungan sekolah pada Sabtu (8/8/2026). Namun, yang bersangkutan tidak berada di tempat.

Upaya konfirmasi juga dilakukan melalui aplikasi WhatsApp, namun nomor yang dihubungi tidak aktif sehingga belum diperoleh keterangan dari pihak sekolah terkait persoalan drainase tersebut. (Oborsultra.id).

 

Laporan: Redaksi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *