Rangkong Hewan Endemik Kalimantan jadi Logo HUT ke-65 Kabupaten Konawe ??

oleh -1402 Dilihat
oleh

Muarasultra.com, KONAWE – Pemerintah kabupaten Konawe kembali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-65 Kabupaten Konawe yang jatuh pada tanggal 3 maret 2025.

Perayaan ini biasanya diisi acara pameran keanekaragaman budaya dan hasil bumi di tiap-tiap kecamatan, pawai adat serta lomba olahraga dan kesenian.

Setiap perayaan HUT Konawe, pemerintah akan merilis logo HUT yang umumnya memiliki definisi atau makna filosofis.

Nah, untuk HUT ke-65 Kabupaten Konawe, pemerintah menggunakan pusaka pade Ta’awu dan kepala burung Rangkong sebagai logo HUT ke-65 Kabupaten berjuluk lumbung beras Sultra.

Awak media kemudian, mengonfirmasi ke pihak panitia dalam hal ini kepala dinas Pemuda, olahraga dan pariwisata (Kadis Porapar) Kabupaten Konawe, Jahiudin tentang makna filosofis logo HUT ke 65 kabupaten Konawe.

Jahiudin menyebutkan, logo HUT ke 65 kabupaten Konawe menggunakan gambar Pade Ta’awu untuk angka 6 dan gambar kepala burung rangkong/O’Hoa (Tolaki) untuk angka 5.

Namun untuk makna filosofis dari logo ini, Jahiudin mengarahkan awak media untuk mengonfirmasi wakil Bupati Konawe, H. Syamsul Ibrahim.

Kami kemudian mencoba menghubungi wakil Bupati Konawe, namun belum ada respon atau tanggapan.

Melansir, penjelasan penggiat budaya, Basrin Melamba dalam beberapa tulisannya, ia menjelaskan Pade Ta’awu merupakan pusaka masyarakat suku tolaki di Mekongga maupun di Konawe. Pade Ta’awu atau Parang Ta’awu pada zaman dahulu dipergunakan oleh raja-raja atau Tamalaki (Panglima Perang) pada waktu peperangan. Pade Ta’awu sendiri Terbagi atas dua jenis

Ta’awu banggania bentuknya lebih lebar, di simpan oleh tadu atau ketua kelompok, biasa di pakai untuk berburu kepala manusia pada tradisi Mongae yang diaman rambut para korban akan di simpan di gagang Ta’awu banggania
Ta’awu tawa towu bentuknya tidak terlalu lebar, di pakai untuk perang dan di pakai oleh prajurit karena lebih mudah diayunkan.
Ta’awu bisa di kenal dari pakemnya dan di buat oleh mbusupo turunan to sanggona. (Basrin Melamba).

Rangkong atau O’Hoa (Tolaki)

Selanjutnya untuk Rangkong adalah salah satu jenis burung berparuh besar yang memiliki karakteristik unik. Dari total 32 jenis rangkong di Asia, hampir setengahnya berada di Indonesia; tiga jenis di antaranya bersifat endemik. Untuk itu, Indonesia menjadi negara terpenting dalam perlindungan populasi enggang di Asia.

Burung rangkong atau burung enggang memiliki banyak filosofi bagi masyarakat Dayak, seperti simbol perdamaian, persatuan, dan kemakmuran.

Burung ini juga dianggap sebagai burung keramat dan simbol pemimpin.

Filosofi burung rangkong sebagai simbol perdamaian dan persatuan. Seluruh bagian tubuh burung rangkong melambangkan kebesaran dan kemuliaan. Sayapnya yang tebal melambangkan pemimpin yang melindungi rakyatnya.

Filosofi burung rangkong sebagai simbol kemakmuran. Ekor panjangnya dianggap sebagai tanda kemakmuran rakyat suku Dayak.

Filosofi burung rangkong sebagai simbol pemimpin. Burung rangkong selalu hinggap di puncak pohon atau di ketinggian.
Burung rangkong hanya berpasangan dengan satu burung.

Filosofi burung rangkong sebagai simbol penghubung roh. urung rangkong diberi kewenangan khusus untuk menembus jalur subayan (surga) dan dunia dengan bebas tanpa batasan, dalam keyakinan suku Dayak Burung rangkong mengantar roh orang mati menuju tempat abadi.

Filosofi burung rangkong sebagai simbol kesetiaan. Burung rangkong adalah salah satu spesies yang memiliki sifat monogami
Saat pasangannya mati, maka pasangan yang ditinggalkan tidak akan kawin lagi.

Burung rangkong disebut juga dengan nama burung enggang, burung julang, dan burung kangkareng. Burung berukuran besar ini hidup di beberapa belahan bumi, termasuk ada beberapa spesies yang hidup di Indonesia.

Burung bersuara khas ini memiliki tampilan luar yang sangat cantik. Paruhnya cukup besar dan berbeda dengan paruh burung pada umumnya.

Paruh burung rangkong agak besar dan terdapat benjolan di atasnya yang menyerupai jambul. Benjolan atau tonjolan yang disebut balung tersebut memiliki struktur berongga.

Di Indonesia, burung rangkok hidup di daerah Pulau Kalimantan, tetapi sudah mulai jarang ditemukan. Berikut fakta-fakta menarik burung rangkong yang dirangkum dari berbagai sumber.

Balung rangkong bukan hanya hiasan
Balung atau benjolan di atas paruh burung rangkong bukan hanya sekadar hiasan, tetapi berfungsi untuk menambah kekhasan suaranya. Balung tersebut berfungsi sebagai ruang dengung suara burung rangkong.

Burung penjelajah
Burung rangkong dikenal sebagai burung penjelajah karena daya jelajahnya cukup luas. Burung ini mampu menjelajah hingga luas 100 ribu hektare dengan terbang atau bertengger dari pohon ke pohon.

Warna pejantan cukup mencolok
Burung rangkong jantan dan betina bisa dilihat perbedaannya dari warna pada bulu-bulunya. Warna bulu burung rangkong jantan agak mencolok sebagai sarana untuk menarik betinanya.

Dianggap lambang kesucian
Di Pulau Kalimantan, tepatnya di tengah masyarakat Dayak, burung rangkong dianggap sebagai lambang kesucian. Masyarakat Dayak menggunakan burung ini sebagai sarana berhubungan dengan leluhur.

Termasuk hewan dilindungi
Populasi burung rangkong secara umum telah mengalami penurunan, termasuk spesies yang ada di Indonesia. Agar tidak mengalami kepunahan, pemerintah melindungi hewan ini dengan undang-undang.(Haluan.co).

Berdasarkan penjelasan dan referensi yang dimiliki dan didapatkan awak media ini, tidak ada sumber yang menyebutkan Rangkong atau O’Hoa merupakan hewan endemik kabupaten Konawe.

Meski begitu Rangkong atau O’Hoa merupakan hewan yang biasa ditemukan di kecamatan Asinua dan Latoma atau daerah Uluiwoi, Ueesi Kolaka Timur. Kondisi alam yang masih asri dan terjaga membuat hewan ini masih bisa ditemukan disana.

Kesimpulan, jika dihubungkan dengan HUT ke-65 Kabupaten Konawe, penulis berpendapat bahwa penggunaan Ta’awu dan kepala burung rangkong menggambarkan makna asal usul kedua pemimpin kabupaten Konawe, Yusran Akbar, keturunan Anggaberi (Tutuwi Motaha) dan Syamsul Ibrahim keturunan Latoma (Tambo i Tepuli ano Oleo).

Lebih jauh lagi, Ta’awu melambangkan kekuatan, kekuasaan dari sang pemimpin. Sedangkan kepala burung rangkong melambangkan kemakmuran, kejayaan dan kesejahteraan.

Laporan : Redaksi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *