Aiptu Dr. Edison: Menjaga Negeri dengan Seragam, Mencerdaskan Bangsa dengan Pena

oleh -428 Dilihat
oleh

Muarasultra.com, KONAWE – Pemandangan berbeda terlihat di koridor Kantor Polres Konawe, tepatnya di ruang Seksi Hukum (Sikum), pada Selasa (3/3/2026) pagi.

Sejumlah mahasiswa dari Universitas Lakidende (Unilaki) tampak menunggu dengan membawa berkas proposal skripsi. Kehadiran mereka bukan untuk melaporkan perkara hukum, melainkan untuk menunaikan kewajiban akademik: bimbingan proposal bersama dosen praktisi mereka, Aiptu Dr. Edison, SH., MH., C.L.A.

Langkah ini menjadi manifestasi nyata implementasi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Polri. Di balik seragam cokelat dengan pangkat Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu), tersimpan kapasitas intelektual seorang doktor yang berasal dari latar belakang pedesaan.

Sosok Aiptu Dr. Edison membuktikan bahwa dedikasi sebagai seorang bintara Polri tidak membatasi ruang untuk meraih capaian tertinggi dalam dunia pendidikan. Ia menunjukkan bahwa pengabdian dan pendidikan dapat berjalan beriringan.

Mendekatkan Kampus dengan Realitas Korps Bhayangkara

Keputusannya memindahkan ruang bimbingan dari kampus ke kantor polisi bukan tanpa alasan. Ia ingin memperkenalkan wajah Polri yang humanis, profesional, dan terbuka secara langsung kepada para mahasiswa.

Melalui interaksi tersebut, mahasiswa tidak hanya berdiskusi tentang metodologi penelitian, tetapi juga menyaksikan langsung dinamika pelayanan kepolisian kepada masyarakat.

“Saya ingin mahasiswa melihat bahwa Polri adalah institusi yang terbuka dan profesional. Pangkat Aiptu yang saya sandang adalah kebanggaan sebagai abdi negara, sementara gelar doktor adalah tanggung jawab moral untuk mencerdaskan bangsa. Di kantor ini, dua dunia itu bertemu,” ujar Aiptu Dr. Edison.

Kehadiran seorang bintara tinggi dengan gelar doktor di lingkungan Unilaki menjadi anomali yang inspiratif. Sebagai dosen praktisi, ia menghadirkan perspektif unik—memadukan ketegasan khas kepolisian dengan ketajaman analisis seorang akademisi.

Dengan pena di tangan dan lencana di dada, Aiptu Dr. Edison tengah meruntuhkan sekat antara aparat dan akademisi. Ia menunjukkan bahwa profesionalisme anggota Polri masa kini tidak hanya diukur dari kemampuan menjaga keamanan, tetapi juga dari kapasitas beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Di ruang sederhana Kantor Sikum itulah, sejarah kecil sedang ditulis—bahwa seorang abdi negara dapat menjadi pelindung masyarakat sekaligus pelita bagi masa depan intelektual bangsa.

Laporan : Febri Nurhuda

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *