Polres Kutai Timur Sebut Temuan Warga Tentang Air Keruh PDAM Terjadi Tahun 2024

oleh -108 Dilihat
oleh
Warga desa Bumi Etam, Paulus Jama saat menunjukkan air PDAM keruh diduga akibat erosi sungai akibat pertambangan batubara di hulu sungai. Video dan dokumentasi ini terjadi tahun 2024.

Muarasultra.com, Kutai Timur, Kalimantan Timur – Polres Kutai Timur melakukan tindaklanjut laporan warga perihal air sungai PDAM di desa Bumi Etam, Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Informasi ini disampaikan Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto, S.H., S.I.K, M.H., melalui, Kapolsek Kaliorang yang aktif memimpin kegiatan di wilayah Kaubun, AKP Damianus Jelatu mengatakan bahwa video kondisi air PDAM keruh terjadi pada tahun 2024.

“Data ini (Dokumentasi dan video wawancara) sudah kami konfirmasikan sama PDAM, perusahan di sekitar termasuk saudara paulus yang diwawancarai, bahwa data ini tahun 2024 dan sudah selesai,” Jelas AKP Damianus Jelatu melalui keterangan resminya melalui pesan whatsapp. Rahu (8/4/26).

Sebelumnya diberitakan, warga Desa Bumi Etam, Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur, mulai mengeluhkan kondisi air sungai yang selama ini menjadi sumber air PDAM. Air sungai tersebut kini berubah keruh dan diduga terdampak aktivitas pertambangan batu bara di wilayah hulu.

Keluhan ini disampaikan langsung oleh salah satu warga, Paulus Jama. Ia mengungkapkan bahwa perubahan kondisi air mulai dirasakan dalam beberapa waktu terakhir, sehingga warga tidak lagi berani menggunakan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.

Ia mengungkap air sungai PDAM di Desa Bumi Etam ini mengalir dari kawasan tambang batu bara. Diduga berasal dari aktivitas PT Ganda Alam Makmur (GAM) dan PT Indexim Coalindo yang alirannya melalui Sungai Senimbung, wilayah PT Telen di Desa Bukit Permata.

“Sekarang airnya sudah keruh, tidak seperti dulu yang jernih, jadi kami tidak berani lagi menggunakannya,” ujar Paulus kepada awak media.

Menurutnya, perubahan warna air yang signifikan diduga akibat limbah erosi dari aktivitas tambang di wilayah hulu. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran warga terhadap dampak kesehatan maupun lingkungan dalam jangka panjang.

Paulus juga memperlihatkan kondisi terkini air sungai di sekitar instalasi PDAM yang tampak keruh dan tercemar. Ia menegaskan bahwa sebelumnya air sungai tersebut menjadi sumber utama kebutuhan air bersih masyarakat.

“Atas kondisi ini, kami sebagai warga meminta kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah, termasuk instansi terkait serta aparat penegak hukum, agar segera turun langsung ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan dan mengambil tindakan tegas,” tambahnya.

Namun setelah ditelusuri oleh kepolisian setempat, peristiwa ini terjadi pada tahun 2024 lalu.

Laporan : Febri Nurhuda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *