Modus Buat Talud, PT WIN Menambang di Pemukiman Warga Torobulu

oleh -398 Dilihat
oleh

Muarasultra.com, KONAWE SELATAN – Satu unit alat berat (ekskavator) milik PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) mulai masuk di belakang rumah warga di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).

Untuk itu, warga Torobulu, Tamrin memprotes keras akan keberadaan alat berat persis dibelakang rumahnya.

Ia curiga alat berat tersebut hanya akal-akalan PT WIN yang berdalih untuk membuat talut atas permintaan warga.

“Kalau memang mau buat talud yah silahkan, tidak ada masalah, akan tetapi adakah yang bisa menjamin ke depan kalau ini alat tidak ada gerakan tambahannya” ujar Tamrin, 1 September 2025.

Dijelaskan, sekitar pukul 8 pagi, 29 Agustus 2025, terdengar suara ekskavator mulai bergeser ke belakang rumah dan merobohkan pagar warga.

Tamrin yang melihat hal itu langsung geram dan menanyakannya sebab operasi alat berat itu berjarak kurang lebih 25 meter dari rumahnya.

Di tengah-tengah perbincangan antara warga juga turut hadir Nilham, Kepala Desa Torobulu. Kepada mereka Tamrin mengatakan tidak masalah jika warga meminta perusahaan untuk melakukan penataan atau pembuatan talud.

Namun ia sangat resah jika ternyata ada penambangan di dalamnya. Dugaan kuat Tamrin itu berdasarkan pertemuannya pekan sebelumnya dengan Hardin, warga Torobulu yang ingin lahannya ditambang. Kepada Tamrin, Hardin menyatakan, “Tidak mau diinjak lahannya oleh alat berat apabila tanahnya tidak di ambil ore-nya”

Pernyataan ini tentu mengkkhawatirkan bagi Tamrin sebagai warga yang akan berdampak langsung apabila terulang kembali penambangan di dekat rumahnya.

Ia mengaku resah setelah apa yang dialaminya pada tahun 2019 lalu. PT WIN menambang sangat dekat dengan pemukiman dengan jarak hanya 5 meter dari pagar rumahnya. Debu-debu sampai masuk ke dalam rumah sehingga menciptakan susasana ketidaknyamanan bagi dirinya dan keluarga.

“Cukup kasihan yang lalu itu kita resah. Ini sudah direklamasi dan pohon-pohonnya sekarang sudah mulai tumbuh, saya khawatir kalau terjadi lagi pengerukkan ore nikel, saya tidak nyaman dengan dampaknya, apalagi debunya jatuh jatuh seperti pasir di dalam rumah,” jelas Tamrin dengan nada memohon.

Perbincangan itu berangsur Sampai pukul 10.22 Wita. Namun belum ada satupun yang mengaku untuk menjamin termasuk Kepala Desa, bahwa pergerakan ekskavator murni hanya untuk penataan lahan dan pembuatan talud.

Jika benar tidak ada maksud untuk menambang, ungkap Tamrin, seharusnya warga yang telah memanggil alat berat tersebut bisa bersepakat lalu menjaminkan bahwa tidak ada aktivitas lain selain penataan lahan dan pembuatan talud.

Laporan : Febri Nurhuda

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *