Muarasultra.com, KONAWE – Harapan untuk menemukan Nasarudin (52), warga Desa Sambeani, Kecamatan Abuki, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), terus menguat di tengah pencarian yang memasuki hari keempat.
Jumat (18/9/2026) menjadi hari yang penuh harapan bagi keluarga dan masyarakat yang masih menanti keberadaan Nasarudin, yang diduga hilang di kawasan hutan sekitar Desa Anggoro.
Di tengah upaya pencarian yang terus dilakukan Tim SAR gabungan, pemerintah kecamatan dan pemerintah desa bersama masyarakat setempat juga melaksanakan ritual Mo’oli, salah satu tradisi yang dikenal dalam kehidupan masyarakat Suku Tolaki.
Prosesi ritual Mo’oli dilaksanakan di sekitar lokasi pencarian korban. Bagi sebagian masyarakat Tolaki, ritual tersebut merupakan bagian dari ikhtiar adat yang diwariskan leluhur dan masih dipertahankan hingga saat ini.
Penggiat budaya Tolaki, Ajomain Suruambo, menjelaskan bahwa Mo’oli memiliki makna memohon izin sekaligus memohon keselamatan kepada penghuni alam gaib agar manusia yang melakukan aktivitas di suatu tempat dijauhkan dari gangguan dan bencana.
Menurutnya, pelaksanaan ritual tersebut tetap tidak terlepas dari keyakinan bahwa segala sesuatu pada akhirnya berada dalam kehendak Tuhan.
“Ritual Mo’oli dilaksanakan kalau mau membuka jalan. Tujuannya kalau kita memohon kepada penghuni gaib alam ini, dengan harapan apa yang kita bangun, kita cari maupun kita kerjakan tidak ada lagi gangguan dari makhluk gaib. Ritual Mo’oli juga biasa disebut pamitan kepada makhluk gaib,” ungkap Ajomain melansir RRI.com.
Ia mengatakan, dalam tradisi masyarakat Tolaki, Mo’oli tidak hanya dilakukan ketika hendak membuka atau memasuki suatu kawasan, tetapi juga dapat dilaksanakan ketika terjadi peristiwa tertentu, termasuk orang hilang, korban tenggelam, maupun kecelakaan yang terjadi di lokasi yang dianggap memiliki nilai keramat.
“Karena siapa tahu ada makhluk yang menyembunyikan jenazah korban. Sehingga dengan ritual Mo’oli, kita berharap bisa membuka mata kita untuk melihat adanya korban yang sudah beberapa hari tidak ditemukan,” ujarnya.
Meski demikian, ritual tersebut merupakan bagian dari ikhtiar budaya masyarakat. Pencarian Nasarudin tetap dilakukan melalui operasi SAR oleh tim gabungan dengan metode dan peralatan pencarian yang telah ditetapkan.
Memasuki hari keempat, Tim SAR gabungan kembali melanjutkan pencarian sejak pukul 07.00 Wita. Personel dibagi menjadi dua tim untuk menyisir area yang telah ditentukan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kendari, Amiruddin A.S., mengatakan Tim 1 menyisir sisi kanan area pencarian dengan luas sekitar 800 x 750 meter. Penyisiran dilakukan menggunakan metode ESAR dengan menyusuri sejumlah jalan setapak di kawasan hutan.
Sementara Tim 2 melakukan penyisiran di sisi kiri dengan luasan area yang sama, yakni sekitar 800 x 750 meter. Tim tersebut juga menerapkan metode ESAR serta menyusuri jalan setapak yang berada di dalam area pencarian.
Untuk memperluas jangkauan pencarian, tim SAR gabungan turut menggunakan drone thermal guna membantu mendeteksi kemungkinan keberadaan korban di tengah kondisi medan hutan yang cukup luas.
Berdasarkan informasi cuaca BMKG, kondisi di lokasi pencarian pada Jumat pagi terpantau cerah dengan kecepatan angin sekitar 5,8 kilometer per jam dari arah barat laut.
Berawal dari Mencari Ikan
Nasarudin diketahui keluar dari rumah pada Senin, 14 September 2026, sekitar pukul 14.00 Wita untuk mencari ikan di kawasan rawa sekitar Desa Anggoro.
Sebelumnya, Nasarudin telah berjanji bertemu dengan sejumlah kerabat untuk bersama-sama mencari ikan. Namun, hingga sekitar pukul 17.30 Wita, para kerabat tidak menemukan korban di lokasi yang telah disepakati.
Dalam pencarian awal, kendaraan dan tas milik Nasarudin ditemukan berada di sekitar lokasi pertemuan. Namun, keberadaan korban hingga kini masih belum diketahui.
Pihak keluarga bersama masyarakat kemudian melakukan pencarian sebelum akhirnya operasi SAR gabungan dikerahkan untuk memperluas pencarian di kawasan tersebut.
Hingga Jumat pagi, pencarian masih belum membuahkan hasil. Tim SAR gabungan terus menyisir area yang telah ditentukan, sementara keluarga dan masyarakat tetap menaruh harapan agar Nasarudin segera ditemukan.
Operasi tersebut melibatkan SMC dan staf SMC KPP Kendari, rescuer KPP Kendari, BPBD Konawe, Damkar Konawe, Tim K9 Polda Sultra, Polsek Abuki, Kartana, RAPI Konawe, Babinsa, Bhabinkamtibmas, aparat desa setempat, masyarakat sekitar, serta keluarga korban.
Sejumlah peralatan juga dikerahkan, di antaranya rescue car, sepeda motor trail, drone thermal, peralatan medis dan evakuasi SAR, perangkat komunikasi, serta perlengkapan keselamatan lainnya.
Hari keempat pencarian pun menjadi bagian dari ikhtiar panjang untuk menemukan Nasarudin. Di tengah penyisiran hutan yang terus dilakukan tim gabungan, doa keluarga dan masyarakat tetap menyertai setiap langkah pencarian.
Laporan: Febri Nurhuda







