Harga Beras Seluruh Wilayah Indonesia Naik, LSM LIRA Konawe Salahkan PJ Bupati Konawe

oleh -846 Dilihat
oleh

Muarasultra.com, KONAWE – Harga beras terus melambung setidaknya dalam 1-2 pekan terakhir, bahkan beberapa kali memecahkan rekor. Hal ini terjadi bukan hanya pada beras premium, tetapi juga beras medium.

Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan, pada Minggu (25/2/2025) harga beras premium turun Rp390 ke Rp15.870 per kg. Meskipun telah meninggalkan titik tertingginya, harga tersebut masih tergolong tinggi. Sementara itu, beras medium naik Rp170 ke Rp14.390 per kg.

Harga tersebut sudah jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Pada kondisi berskala nasional seperti ini, salah satu organisasi masyatakat LSM LIRA Konawe justru menyalahkan Pj Bupati Konawe Harmin Ramba yang dinilai gagal dalam menekan laju harga beras dan berpotensi terjadi inflasi.

Melansir pemberitaan Lintassultra.com, Sekda LIRA Agus Salim menilai, kepala daerah di Kabupaten Konawe diduga gagal dan tidak mampu mengendalikan inflasi apa bila harga terus mengalami lonjakan.

“Hal itu di lihat berdasarkan parameter harga komoditas pangan yang berada jauh dari harga normal. Untuk itu dalam waktu dekat kami yang tergabung dalam LIRA bersama penggiat anti korupsi menyampaikan secara tegas akan melakukan aksi unjuk rasa dan meminta kepada mendagri untuk melakukan evaluasi kepada Pj Bupati Konawe terkait penanganan inflasi,” jelas Agus.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kabupaten Konawe Abdul Hasim mengatakan kenaikan harga beras terjadi di seluruh Indonesia.

Harga terendah saat ini di Aceh Rp. 14.680 perkilogram sedangkan harga tertinggi di Wilayah Papua yang mencapai Rp.24.000 perkilogram. Sementara untuk Wilayah Sulawesi khususnya Sulawesi Tenggara Rp.15.490 perkilogram.

“Sedangkan untuk Kabupaten Konawe sendiri harga beras paling murah dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Sultra. Harga beras di Konawe perhari ini Rp.15.400 kilogram untuk beras premium dan Rp.13.500 perkilogram untuk beras medium,” ungkap Abdul Hasim kepada Suara Sultra, Minggu 25 Februari 2024.

Menurut Hasim sapaan akrab Kadis Ketapang Konawe, kenaikan harga beras ini diakibatkan stok beras di gudang Bulog terbatas akibat distribusi secara nasional belum masuk ke wilayah Sultra.

“Diperkirakan beras akan kembali stabil minggu depan karena pasokan beras sudah akan masuk,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi kenaikan harga beras terus melonjak di pasaran, Pemerintah Daerah Kabupaten Konawe melalui Dinas Ketapang dan Bulog Konawe sampai saat ini masih terus melakukan penyaluran bantuan beras CPP (Cadangan Pangan Pemerintah) sebanyak 10 kilogram untuk setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) untuk stok bantuan di bulan Februari ini.

“Kegiatan distribusi dilakukan ke seluruh wilayah kecamatan se-Kabupaten Konawe. Bahkan untuk Wilayah Kecamatan Latoma dan Routa kami distribusi tiga bulan sekaligus (Januari–Maret) mengingat dua wilayah ini termasuk kategori ekstrem,” jelasnya.

“Jadi kami pastikan bahwa untuk ketersediaan beras di tingkat bawah dalam hal ini bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) aman terkendali,” sambungnya.

Hasim menerangkan bahwa untuk stok pangan Kabupaten Konawe itu masih aman hingga bulan Juni 2024 mendatang.

“Bulan April kita memasuki masa Panen Raya. Jadi untuk ketersediaan stok pangan khusunya beras itu bisa sampai akhir tahun 2024,” bebernya.

Mengutip CNBC Indonesia, Minggu (25/2/2024), Berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional No 7/2023, HET beras berlaku sejak Maret 2023 adalah Rp. 10.900/kg medium, sedangkan beras premium Rp 13.900/kg untuk Zona 1 yang meliputi Jawa, Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulawesi. Sementara, HET beras di Zona 2 meliputi Sumatra selain Lampung dan Sumsel, NTT, dan Kalimantan dipatok Rp 11.500/kg medium dan beras premium Rp 14.400/kg. Sementara di zona ke-3 meliputi Maluku dan Papua, HET beras medium sebesar Rp 11.800/kg, dan untuk beras premium sebesar Rp 14.800/kg.

Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menyebut faktor perubahan iklim yang tidak menentu jadi penyebab tanaman padi petani gagal, hingga menyebabkan harga beras di pasaran menjadi naik.

“Kemarin waktu kita (Bapanas) ke lapangan, ke daerah Grobogan dan lain sebagainya, itu ada 3 ribu hektare (sawah) tergenang banjir. Ternyata, pas hujan kencang dia kencang banget hujannya, akhirnya banjir,” kata Ketut.

“Ini ada potensi gagal. Mudah-mudahan tidak gagal ya, tapi ada potensi yang harus kita waspadai. Itu kan petani mengeluarkan ongkos yang lebih juga. Sementara di tempat lain agak tinggi, di tempat lainnya agak rendah hujannya. Nah ini efek gorila El Nino kita katakan. Dampaknya ini sudah mulai dirasakan petani,” ujarnya.

Meski begitu, Ketut menambahkan, pihaknya tetap mengacu kepada Kerangka Sampel Area (KSA) BPS, yang menyatakan bulan pada Januari-Februari 2024 ini, produksi padi masih akan minus dari kebutuhan.

“Artinya memang Januari-Februari itu memang kita agak lumayan koreksinya,” tutur dia.

“Namun, di bulan Maret menurut prediksi KSA BPS kita produksinya sudah sekitar 3,5 juta ton beras. Jadi ini akan terjadi surplus. Harapan kita habis Maret, April, Mei, Juni juga terjadi surplus. Kalau itu terjadi, maka mulai lah akan terjadi penyesuaian atau koreksi harga yang ke bawah,” ujar Ketut.

Gejolak Harga Gabah

Di sisi lain, harga gabah juga terpantau naik. Harga Gabah Kering Panen (GKP) sekarang ini sudah di Rp7.500 per kg, bahkan ada yang sampai Rp8.000 per kg. Kemudian, Gabah Kering Giling (GKG) sudah ada yang Rp8.200-Rp8.500 per kg.

“Jadi kalau GKP maupun GKG dengan harga segitu, gampangnya dikali 2 saja, dikali 2 memang akan menghasilkan segitu harga (berasnya), nggak jauh dari situ,” kata Ketut kepada CNBC Indonesia.

Ketut menuturkan, setelah berkoordinasi dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan pemangku kepentingan lainnya, harga GKP/GKG menjadi tinggi itu disebabkan karena produksinya yang memang sedikit terkoreksi, imbas dari El Nino yang panjang.

“Ada beberapa petani kita yang jadi gagal panen. November atau Desember dia tanam tapi besoknya kering, akhirnya dia ngulang tanam. Dan itu pun berdasarkan KSA BPS, memang ada koreksi sedikit terkait dengan produksinya,” tuturnya.

“Nah yang selanjutnya, penyebab GKP tinggi juga adalah sewa lahan yang sudah naik. Dulu dapat Rp3 juta sekarang nggak dapat, sudah Rp12 jutaan,” lanjut Ketut.

Dan, kondisi itu diperparah harga pupuk yang naik, akibat perang yang terjadi di Ukraina.

“Itulah yang menyebabkan GKP/GKG nya naik. Kalau GKP/GKG naik, maka sudah pasti harga beras juga naik,” pungkasnya.

Laporan : Febri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *