Muarasultra.com, Konawe – Petani di Konawe mulai merasakan dampak pembangunan sumur jaringan irigasi air tanah tersebar (JIAT) yang dibangun Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari. Meski belum sepenuhnya optimal, fasilitas ini sudah berfungsi dan diharapkan menjadi solusi kebutuhan air bagi lahan pertanian, khususnya di Kecamatan Abuki dan Tongauna.
Di Desa Walay II, Kecamatan Abuki, Misran dari Kelompok Tani Sanggula mengungkapkan bahwa sumur JIAT di wilayahnya sudah berjalan,dan sdh berfungsi baik.
“Kalau berfungsi ya sudah berfungsi, Saya berharap bagaimana ke depannya ini bisa tidak ada istilah putus-putus,” kata Misran.
Ia menjelaskan, belum maksimalnya pemanfaatan sumur dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya sistem kelistrikan yang mengandalkan panel surya serta kondisi cuaca yang belum mendukung.
“Ya mungkin karena faktor kelistrikannya juga karena menggunakan panel, dan cuaca belum begitu mendukung. Tapi kalau berfungsi ini sudah berfungsi,” ujarnya.
Meski demikian, Misran optimistis keberadaan JIAT akan memberi manfaat besar bagi para petani ke depan. Ia menilai, tanda-tanda manfaat itu sudah mulai terlihat.
“Ya alhamdulillah, mudah-mudahan ke depannya, karena ini saya kan baru turun, ya mudah-mudah ini sangat besar manfaatnya. Kalau dibilang tidak berfungsi, bisa kita lihat ini hasilnya ada. Mudah-mudahan ke depan bisa membantu kami,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada BWS Kendari atas pembangunan fasilitas tersebut di desanya.
“Kami banyak berterima kasih kepada pihak BWS Kendari karena dibangunnya di kampung kami, Desa Walay. Kami sudah nikmati bersama teman-teman yang lain,” pungkasnya.
Di sisi lain, PPK Air Tanah I BWS Sulawesi IV Kendari, Novril, menegaskan bahwa proyek JIAT tersebut tidak mangkrak sebagaimana isu yang beredar. Ia menyebut, fasilitas itu telah diserahterimakan pengoperasiannya kepada pemerintah daerah dan dapat dimanfaatkan oleh petani.
“Saya menepis kalau dibilang mangkrak atau mandeg itu, karena itu kan sudah kita serah terimakan pengoperasiannya ke pemda, ke orang pertanian, dan mereka sudah saksikan bahwa ada airnya, dan bisa dimanfaatkan,” ujar Novril, Rabu (6/5).
Menurutnya, belum optimalnya pemanfaatan sumur sebelumnya lebih disebabkan karena waktu penyelesaian proyek bertepatan dengan masa tanam petani.
“Kalaupun memang kemarin belum termanfaatkan wajar, karena kita masih proses pelaksanaan pekerjaan, para petani sudah tanam. Saya konfirmasi langsung ke petani, bulan enam ini mereka akan manfaatkan sumur itu,” katanya.
Novril juga mengungkapkan bahwa para petani sempat terkejut dengan pemberitaan yang menyebut sumur tersebut tidak bermanfaat.
“Saya juga sudah turun lapangan, ketemu sama petani di sana, saya konfirmasi langsung, mereka juga kaget kenapa ada berita seperti itu. Orang kami petani di sini menerima kok, kata mereka begitu,” jelasnya.
Pihak BWS, lanjut Novril, terus mendorong petani agar memanfaatkan sumur yang telah tersedia agar tidak terbengkalai.
“Pas kami ke lapangan juga kami sampaikan bahwa sumur ini harus dipakai, karena kalau tidak dipakai jangan sampai nanti mengendap. Kami sudah menyampaikan agar sumur itu bisa dipakai, sudah saya sampaikan ke kelompok taninya, kuncinya juga ada sama mereka,” ungkapnya.
Ia menambahkan, selama ini petani juga sempat ragu menggunakan sumur karena mengira belum ada proses serah terima resmi.
“Selama ini mereka juga tidak berani pakai karena mereka takut karena mereka tahunya ini belum diserahterimakan. Terus kami sampaikan bahwa ini tidak perlu serah terima seperti bagaimana. Ini barang kalau sudah ada airnya bisa langsung dipakai. Karena kami membangun untuk masyarakat, bukan untuk pribadi,” tegasnya.
Novril memastikan, proyek tersebut tetap berjalan sesuai tahapan dan tidak mengalami kendala berarti.
“Jadi kami tegaskan tidak ada yang mandek di proyek tersebut. Masa pemeliharaan itu biasa, finishing akhir. Masa proyek sudah selesai kita anggap sudah 95 persen, sisa 5 persennya masa pemeliharaan selama satu tahun pangkasnya.
Kami harapkan para petani memanfaatkan sumur jiat ini dan di manfaatkan dengan baik untuk ketahanan pagan nasional
Laporan : Redaksi







