Muarasultra.com, KONAWE UTARA – Warga Kelurahan Linomoiyo, Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe Utara, dihebohkan dengan kemunculan dua ekor buaya berukuran besar di Sungai Oheo. Dua reptil predator tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar 4 hingga 5 meter dan terlihat berenang di bawah Jembatan Linomoiyo.
Sejumlah warga yang melintas mengabadikan kemunculan buaya tersebut menggunakan telepon seluler. Video itu pun dengan cepat menyebar di media sosial dan grup percakapan warga.
Namun, bukan semata kemunculan buaya yang menjadi sorotan utama masyarakat, melainkan kondisi air Sungai Oheo yang kini berubah drastis.
Air sungai tampak berwarna coklat pekat, keruh, dan dipenuhi sedimen lumpur yang diduga kuat berasal dari aktivitas pertambangan di wilayah Kecamatan Oheo dan sekitarnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga setempat, terdapat sejumlah perusahaan tambang yang diketahui melakukan aktivitas di jalur sungai dan jalan hauling di sekitar DAS Oheo.
“Buaya itu memang berbahaya, tapi kondisi sungai sekarang jauh lebih mengkhawatirkan. Airnya sudah tidak bisa dipakai, warnanya coklat seperti lumpur,” ujar seorang warga Konawe Utara.
Warga menilai kondisi ini sangat memprihatinkan. Sungai Oheo yang dulunya jernih dan menjadi sumber air bagi masyarakat, kini tercemar akibat sedimentasi tanah tambang yang terus mengalir setiap hari, terutama saat hujan turun.
“Sekarang sudah masuk musim hujan, jangan sampai bencana banjir bandang tahun 2019 terulang kembali,” ujarnya harap-harap cemas.
Ironisnya, nama Linomoiyo dalam bahasa daerah Tolaki berarti “daerah atau bumi yang bersih dan jernih”. Namun saat ini, makna tersebut seolah hanya tinggal nama. Tak ada lagi kejernihan, yang tersisa hanyalah air keruh bercampur lumpur dan debu tambang.
Laporan : Febri Nurhuda






