Headline

OPINI: Qurban Bukan Qurban

Oleh: Cak AT – Ahmadie Thaha*

 

Muarasultra.com, JAKARTA – Beduk Idul Adha bertalu-talu– takbir menggema. Sapi-sapi mulai gelisah– bukan karena takut disembelih– tetapi karena mereka mendadak sadar: harga dirinya naik drastis. Dari hewan ternak berubah menjadi simbol politik nasional. Seekor sapi di pelosok Jawa Barat kabarnya sampai pingsan kecil ketika mendengar dirinya dibeli delapan puluh juta rupiah. “Saya ini sapi atau apartemen studio di pinggir Jakarta?” katanya sambil mengunyah rumput dengan penuh eksistensialisme.

Negeri ini memang ajaib. Di tempat lain, rakyat antre minyak goreng. Di sini, sapi antre masuk APBN– dan semuanya diumumkan dengan khidmat– dengan bangga. Dengan nada seolah-olah langit ketujuh baru saja menurunkan wahyu peternakan nasional ke Istana. Dengan dibungkus kalimat pengaman, “Bantuan kemasyarakatan” untuk qurban.

Sekretariat Negara menjelaskan bahwa Presiden Prabowo menggelontorkan sekitar Rp100 miliar untuk membeli 1.098 Sapi kurban premium dari peternak lokal. Bahkan ada sapi berbobot 1,3 ton untuk Masjid Istiqlal. Sapi itu mungkin kalau lewat di jalan tol, pengendara memberi sein duluan.

Tentu narasi Istana indah sekali. Memberdayakan peternak lokal. Menggerakkan ekonomi rakyat. Mendukung swasembada daging. Mengurangi impor sapi. Pokoknya lengkap. Tinggal kurang slogan: “Dari kandang menuju kedaulatan nasional.”

Masalahnya Sederhana– dan justru karena Sederhana– menjadi lucu. Dalam Fikih Islam, qurban itu ibadah personal– istilahnya fardiyyah. Ibadah individual. Ibadah kantong pribadi–bukan ibadah dompet negara. Para ulama sebenarnya menjelaskan persoalan ini dengan cukup elegan. Penyembelihan hewan dalam Islam memang pada dasarnya adalah ibadah individual dari sisi niat dan tanggung jawabnya.

Orang yang berqurban harus berniat sendiri, memakai hartanya sendiri, dan berharap pahala untuk dirinya sendiri. Seekor Kambing bahkan pada asalnya hanya sah untuk satu orang, meski pahalanya boleh diniatkan untuk keluarga– tetapi ibadah ini sekaligus memiliki dimensi sosial yang besar. Dagingnya dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat agar kebahagiaan tidak berhenti di halaman rumah orang kaya saja.

Bahkan dalam Sapi dan Unta, syariat membolehkan tujuh orang patungan dalam satu hewan. Artinya, Islam memang mengajarkan keseimbangan yang indah: niatnya tetap personal, manfaatnya boleh komunal. Hewan qurban harus dibeli dari harta milik sendiri. Bukan dari uang publik. APBN itu bukan rekening pribadi presiden. Itu uang rakyat. Uang tukang bakso. Uang pedagang gorengan. Uang guru honorer. Uang buruh yang pajaknya dipotong diam-diam sambil menahan cicilan motor.

Maka ketika negara ikut membantu distribusi pangan rakyat lewat hewan sembelihan, itu mulia sebagai kebijakan sosial. Hanya saja, jangan sampai sedekah publik dipoles menjadi drama spiritual personal– sebab sapi pun bisa bingung membedakan mana ibadah dan mana konferensi pers.”

Kalau memakai uang negara lalu disebut “qurban presiden”, sapi-sapi mungkin mulai bingung soal identitas pemiliknya. “Maaf,” kata seekor Sapi Simmental sambil melirik kamera wartawan. “Jadi sebenarnya saya ini qurban siapa? Presiden? Menteri Keuangan? Direktorat Pajak? Atau rakyat yang tiap tahun disuruh lapor SPT sambil berkeringat?” Yang lebih menarik lagi adalah logika spiritualnya. Dalam Islam, qurban itu pengorbanan pribadi. Ada unsur melepaskan kecintaan terhadap harta milik sendiri demi mendekat kepada Allah. Qurban artinya mendekat.

Maka kalau uangnya berasal dari negara, lalu apa yang sebenarnya dikorbankan? Hewan dibeli bukan dari harta presiden sendiri– bukan tabungannya sendiri. Bukan hasil keringat pribadinya. Kalau bahasa warung kopi: yang keluar uang rakyat, yang dapat foto presiden.

Maka sebagian ulama di kitab Fiqih dan Fatwa menjelaskan dengan sangat jernih: kalau hewan qurban dibeli memakai dana negara, statusnya bukan qurban pribadi. Ia berubah menjadi sedekah sosial negara. Program bansos daging nasional. Mungkin lebih tepat disebut dengan jujur sebagai distribusi pangan rakyat. Sah dan baik diselenggarakan sebagai kebijakan sosial– tetapi jangan dicampuradukkan dengan ibadah personal kepala negara. Sebab negara bukan manusia. Kecuali mungkin ada teori politik baru: L’État, c’est moi– negara adalah saya. Pajak adalah dompet saya. APBN adalah amplop saya. Kalau sudah begitu, Sapi pun mungkin perlu belajar ilmu tata negara.

Bayangkan kalau logika ini diteruskan. Besok ada pejabat membangun jalan tol pakai APBN lalu berkata, Ini sedekah pribadi saya untuk rakyat — atau menteri membeli pesawat tempur lalu berkata, ini hadiah ulang tahun saya untuk bangsa. Maka kita tidak sedang hidup dalam republik. Kita sedang hidup di peternakan feodal modern– dimana Sapi-sSpi lebih paham konsep kepemilikan dibanding sebagian elite.

Lucunya lagi, rakyat sering dibuat terharu oleh angka besar. Seratus miliar! Seribu sembilan puluh delapan sapi! Delapan puluh juta per ekor. Premium! Jumbo! Simmental! — seolah-olah semakin besar bobot Sapi, semakin berat pula keikhlasan spiritualnya.

Padahal Allah tidak pernah menyuruh manusia memamerkan tonase ketakwaan. Al-Qur’an bahkan sudah mengingatkan dengan sangat halus dalam al-Qur’an: bukan daging dan darah qurbannya yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaannya– tetapi di negeri pencitraan, kadang kamera lebih cepat sampai daripada ketakwaan itu sendiri.

Di balik semua satire ini, ada satu pelajaran penting. Negara memang boleh membantu rakyat dengan distribusi hewan ternak. Bahkan itu baik. Peternak terbantu. Daging tersebar. Ekonomi bergerak. Tidak ada masalah dengan itu– yang menjadi masalah adalah ketika bantuan sosial dibungkus sebagai ibadah personal penguasa. Di situlah batas antara amanah dan pencitraan mulai kabur seperti spanduk caleg kehujanan– dan mungkin, kemarin-kemarin malam menjelang Idul Adha, di kandang-kandang sunyi seluruh Indonesia, sapi-sapi sedang berdiskusi pelan.

“Saudaraku,” kata seekor Sapi tua sambil menatap bulan. “Ternyata yang paling berat di negeri ini bukan bobot badan kita.” “Apa itu?” “Bobot simboliknya.” Lalu mereka pun terdiam– karena bahkan Sapi pun tahu: uang rakyat itu amanah. Bukan panggung.

*Jurnalis Senior dan Kolumnis

 

Editor: Febri Nurhuda

admin

Recent Posts

Momentum Idul Adha, Polres Konawe Kurban 13 Sapi dan 1 Kambing, Kapolres: Semoga Bermanfaat Kepada Penerima

Muarasultra.com, KONAWE – Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah/2026 Masehi,…

5 jam ago

DPD PKS Konawe Salurkan 5 Ekor Sapi Kurban, Tebar Semangat Berbagi dan Berdaya

Muarasultra.com, KONAWE – Dewan Pimpinan Tingkat Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Konawe menyalurkan…

5 jam ago

KPK Periksa Pejabat Kemenkeu, Kasus Eks Bupati Kukar Rita Widyasari Mengarah ke Logistik Tambang

Muarasultra.com, SAMARINDA - Pengembangan kasus dugaan gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) mantan Bupati…

22 jam ago

Kejati Sultra Salurkan Hewan Kurban di Dua Panti Asuhan

Muarasultra.com, Kendari - Dalam rangka menyambut Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara…

1 hari ago

Antisipasi Dampak Tambang Nikel, KaKantah Konawe Hadiri Pemetaan Potensi Konflik Bersama Polres Konawe

Muarasultra.com, KONAWE - Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Konawe, Edison, S.ST., M.M., menghadiri agenda penting terkait…

1 hari ago

MAP Hukum Sultra Sorot Dugaan Oknum Polisi Terlibat Aktivitas Distribusi BBM di SPBUN Lapulu

Muarasultra.com, Kendari – MAP HUKUM Sultra kembali menggelar aksi jilid II di depan Mapolda Sulawesi…

1 hari ago