Berita

RUU Pemilu Masuk Fase Krusial, Skema Caleg Suara Terbanyak Berikutnya untuk DPRD Transisi Menguat

Muarasultra.com, JAKARTA – Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilihan Umum di Panitia Kerja (Panja) DPR RI memasuki fase krusial. Salah satu materi pembahasan paling fundamental yang tengah dimatangkan adalah formulasi pengisian keanggotaan DPRD Transisi pasca-Putusan Mahkamah Konstitusi (MK).Rancangan undang-undang

Gagasan untuk mengisi kursi DPRD Transisi menggunakan skema calon legislatif (caleg) pemilik “suara terbanyak berikutnya” pada Pemilu 2024 menguat sebagai jalan tengah. Usulan ini merupakan rumusan konsensus dari diskusi lintas sektor yang disuarakan oleh anggota Komisi II DPR RI bersama elemen Koalisi Masyarakat Sipil.

Usulan ini lahir dari evaluasi terhadap beban anggaran negara serta perlindungan terhadap prinsip kedaulatan rakyat. Dua kelompok utama di balik gagasan tersebut adalah:Transisi pemilu

Anggota Komisi II DPR RI, salah satunya Taufan Pawe, mengemukakan opsi ini secara terbuka. Dalam pandangan kedewanan, skema ini memiliki pijakan konseptual yang sejalan dengan aturan pengisian DPRD di Daerah Otonomi Baru (DOB) sebagaimana diatur dalam UU MD3. Opsi ini dinilai paling rasional dan aman bagi efisiensi APBN/APBD dibandingkan memaksakan pelaksanaan pemilu sela (by-election).

Kelompok masyarakat sipil, seperti Gerakan Kedaulatan Suara Rakyat (GKSR), turut mengajukan draf usulan serupa. Aliansi ini menolak keras opsi perpanjangan masa jabatan anggota DPRD aktif (incumbent). Bagi masyarakat sipil, mengaktifkan caleg peraih suara terbanyak berikutnya jauh lebih demokratis karena figur tersebut memiliki legitimasi elektoral murni dari hasil bilik suara Pemilu 2024.Berita DPR

Saat ini usulan krusial tersebut sedang digodok intensif di internal Komisi II DPR RI dan dijadwalkan bakal difinalkan oleh Panja RUU Pemilu.

Dinamika politik serta perdebatan mengenai keabsahan konstitusional skema ini masih terus bergulir di parlemen. Penentuan kesepakatan final dalam draf RUU Pemilu ini akan menjadi krusial sebelum sah diketok menjadi undang-undang resmi untuk menjamin kepastian hukum pengisian kelembagaan legislatif daerah di masa transisi. (Red)

 

 

Laporan: Redaksi

admin

Recent Posts

Kementerian ATR/BPN Sertipikasi Lebih dari 50 Ribu Tanah Wakaf dalam Periode Dua Tahun Kabinet Merah Putih

Muarasultra.com, Jakarta - Tanah wakaf yang umumnya digunakan untuk kepentingan ibadah, pendidikan, serta kegiatan sosial…

16 menit ago

Kementerian ATR/BPN Targetkan Pendaftaran Tanah 4,8 Juta Hektare Melalui ILASPP

Muarasultra.com, Jakarta - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menargetkan perluasan pendaftaran tanah…

19 menit ago

UU Pengaturan Reforma Agraria Buka Jalan Pemulihan Hak Masyarakat dalam Konflik Pertanahan

Muarasultra.com, Jakarta - Pemulihan hak masyarakat menjadi salah satu mekanisme penyelesaian konflik agraria yang diatur…

22 menit ago

Jaga Keamanan Aset, Dirjen SPPR Imbau para Pemilik Tanah untuk Pasang Patok Tanda Batas

Muarasultra.com, Jakarta - Memastikan batas tanah secara jelas merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan…

31 menit ago

Sejak Diluncurkan pada 2023, Kementerian ATR/BPN Terbitkan Hampir 10 Juta Sertipikat Elektronik

Muarasultra.com, ​Jakarta - Sertipikat Elektronik merupakan salah satu wujud transformasi layanan pertanahan yang dilakukan Kementerian…

36 menit ago

Wamen ATR/Waka BPN Bahas Pentingnya UU Pengaturan Reforma Agraria dalam Diskusi Publik Ombudsman RI

Muarasultra.com, ​Jakarta - Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka…

39 menit ago