Berita

Pernyataan Bahlil Soal RDMP Balikpapan Beroperasi Hemat Rp 60 Triliun serta Stop Impor Solar 2026 dan Bensin 2027 Menyesatkan

Muarasultra.com, JAKARTA – Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyatakan dengan beroperasinya Refinery Development Master Plan Project (RDMP) Pertamina Balikpapan 360 MB bisa menghemat Rp 60 triliun dan akan mulai menghentikan impor solar pada pertengahan tahun 2026 dan menghentikan impor bensin pada semester kedua tahun 2027 adalah sebuah pernyataan yang sangat menyesatkan publik.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil di hadapan Presiden Prabowo Subianto ketika meresmikan beroperasinya RDMP Pertamina RU V Balikpapan, Senin (12/1/2026).

Demikian diungkapkan Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman, Senin (19/1/2026) di Jakarta.

Menurut Yusri, pernyataan Bahlil tersebut terkesan hanya memberi angin sorga kepada presiden dan menyesatkan publik.

“Pasalnya, sejak mandatori biosolar B30 tahun 2018 dijalankan, Pertamina sudah tidak melakukan impor solar lagi,” ungkap Yusri.

Bahkan, lanjut Yusri, dengan mandatori B40 dan jika semua kilang Pertamina beroperasi sehat, justru produksi solar sudah berlebih.

“Apalagi jika mandatori B50 dijalankan, sudah tentu kilang Pertamina kelebihan solar cukup banyak,” lanjut Yusri.

Sebenarnya, jelas Yusri, Pertamina terpaksa impor solar tahun 2023 lantaran lebih disebabkan kilang Balikpapan berhenti beroperasi hampir 10 bulan akibat proses pengintegrasian RDMP molor dan diperparah kebakaran CDU IV pada saat start up yang menyebabkan kolom fraksinator jadi agak miring pada waktu itu.

Konon kabarnya menurut Yusri ” jika kolom yang miring tersebut diganti, proyek RDMP harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp 7 triliun, sehingga terpaksa dilakukan perbaikan saja dan tentu diragukan kapasitas tambahan 100 ribu barel perhari bisa maksimal”.

“Jadi, akibat fatality CDU IV pada 25 Mei 2024, berdampak besar terhadap kehandalan kilang RDMP Balikpapan. Apakah bisa beroperasi dengan kapasitas penuh ? Itu menjadi pertanyaan besar yang harus bisa dijawab oleh manajemen Pertamina,” beber Yusri.

Selain itu, ” Pertamina harus menjelaskan mengapa PT Kilang Pertamina International bisa merugi sekitar USD 2,3 miliar pada tahun 2024 dan rugi sekitar USD 1,7 miliar di tahun 2025,” heran Yusri.

Lebih lanjut Yusri mengungkapkan, pernyataan Bahlil bahwa dengan beroperasinya RDMP Pertamina Balikpapan bisa menghemat Rp 60 triliun karena ada penambahan produksi 100.000 barel perhari berupa Pertalite Ron 90, Pertamax Ron 92 dan solar, patut dipertanyakan kebenarannya dan apa dasar hitungannya.

“Sebab persoalan mendasar kita saat ini adalah defisit di hulu akibat lifting minyak hanya sekitar 600.000 barel perhari untuk bahan baku kilang, sementara konsumsi BBM saat ini katanya sudah mencapai 1,6 juta barel perhari, sudah tentu defisitnya menyebabkan angka impor kita tetap sebesar 1 juta barel perhari dalam bentuk minyak mentah dan BBM,” beber Yusri.

Jadi, kata Yusri, dengan beroperasinya RDMP Balikpapan bisa sempurna memang impor BBM Indonesia menjadi menurun, akan tetapi impor minyak mentah tetap meningkat dari sebelumnya.

Sementara itu, dilansir berbagai media, pada Senin (12/1/2026) lalu, Bahlil menyatakan bahwa beroperasinya RDMP salah satunya adalah potensi pengehematan devisa negara lebih dari Rp 60 triliun pertahun.

Bahlil mengatakan penghematan itu ditopang oleh peningkatan kilang melalui fasilitas Crude Destilation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC), sehingga kapasitas kilang Pertamina Balikpapan meningkat dari sebelumnya 260 ribu barel perhari menjadi 360 ribu barel perhari.

Lebih lanjut Bahlil mengatakan kapasitas produksi solar dan bensin jadi meningkat, sehingga ia berharap pada pertengahan 2026 Indonesia tidak perlu impor.

Bahlil juga menyatakan, melalui optimasi RDMP Balikpapan, produksi bensin dengan nilai oktan di atas RON 90 dapat ditingkatkan sebesar 28,9 kilo liter per tahun, RON 92, RON 95 dan RON 98 dapat ditekan hingga sekitar 3,6 juta kilo liter per tahun.

Sementara menurut Bahlil, kebutuhan nasional mencapai 38,5 juta kilo liter pertahun, kebutuhan tersebut terdiri dari bensi RON 90 sebesar 28,9 juta kiloliter per tahun, RON 92 sebesar 8,7 juta kilo liter per tahun serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu kilo liter pertahun.

“Kedepan, melalui penerapan E (Etahnol) 10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kilo liter per tahun dan melalui pengembangan kilang selanjutnya kita dapat menyetop impor bensin RON 92, RON 95 dan RON 98 serta mengurangin impor RON 90,” tutup Bahlil.(*)

Laporan : Redaksi

admin

Recent Posts

Proyek Banjir Konaweeha Rp12,9 Miliar di Konawe Disorot, Debu Ganggu Warga dan Material Diduga Ilegal, Polisi Diminta Bertindak

Muarasultra.com, KONAWE - Proyek Pengendalian Banjir Sungai Konaweeha di desa Langgonawe, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe,…

10 jam ago

Bawa Nama Konawe ke Panggung Regional, King Skate Tampil Gemilang di EIRC 2026

Muarasultra.com, KONAWE - Club sepatu roda Konawe King Skate (KKS) menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang…

13 jam ago

Penerangan Jalan Andowia-Wanggudu Raya Disorot Usai Kecelakaan, IPPMAWA Desak Pemkab Konut Buka Dokumen PJU, Kadis DLH Bungkam

Muarasultra.com, KONAWE UTARA — Minimnya penerangan di sepanjang jalan poros Andowia–Wanggudu Raya, Kabupaten Konawe Utara,…

17 jam ago

Upah Lembur dan Sistem Roster Dipersoalkan, Manajemen PT Sifang Mining Site TMS Konawe Utara Disorot, Buruh Ancam Mogok 21 Oktober

Muarasultra.com, KONAWE UTARA — Ratusan pekerja PT Sifang Mining Indonesia yang bertugas di Site TMS/PT…

21 jam ago

Puluhan Siswa SD dan SMA di Konsel Diduga Keracunan Usai Santap MBG, Dilarikan ke Puskesmas

Muarasultra.com, KONAWE SELATAN – Puluhan siswa sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) di…

21 jam ago

Komitmen Berantas Halinar, Rutan Unaaha Gencarkan Penggeledahan Blok Hunian

Muarasultra.com, KONAWE – Menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan pemasyarakatan membutuhkan pengawasan yang konsisten serta…

22 jam ago