Advertorial

Peduli Rakyat, DPRD Konawe Dorong Legalisasi Pertambangan Rakyat

Muarasultra.com, KONAWE — Kisruh aktivitas tambang pasir di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Konaweeha, Kabupaten Konawe, mulai menemukan titik terang.

Setelah sempat berujung laporan ke kepolisian, para pihak kini memilih jalur dialog untuk mencari solusi yang mengakomodasi kepentingan hukum, ekonomi, dan stabilitas sosial.

Ketua Forum Komunikasi Antar Suku dan Agama (FORKASA) Sulawesi Tenggara, Muh. Hajar, yang sebelumnya melaporkan dugaan tambang ilegal ke Polda Sultra, menunjukkan sikap terbuka.

Hajar menyatakan kesediaannya menempuh penyelesaian persuasif bersama Pemerintah Kabupaten Konawe, DPRD, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Upaya tersebut diwujudkan melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang difasilitasi DPRD Konawe. Forum ini menjadi ruang dialog bagi seluruh pihak untuk menyampaikan pandangan, mulai dari aspek penegakan hukum hingga dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Dalam RDP itu, FORKASA bahkan menyatakan akan segera mencabut laporan kepolisian, dengan syarat tercapainya kesepakatan bersama yang dapat diterima semua pihak.

Di balik polemik ini, tersimpan persoalan kompleks. Aktivitas penambangan pasir di DAS Konaweeha tidak hanya menyangkut legalitas, tetapi juga menyentuh aspek sosial-ekonomi masyarakat.

Sejumlah sopir dump truck dan buruh pemuat pasir mengaku terdampak akibat terganggunya aktivitas tambang.

Sementara itu, kebutuhan material pasir untuk proyek pembangunan yang bersumber dari APBD dan APBN di Konawe, Kendari, Kolaka Timur hingga Kolaka tetap tinggi.

Melihat kondisi tersebut, DPRD Konawe melalui Komisi II mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam satu forum. RDP dipimpin Ketua Komisi II, Eko Saputra Jaya, didampingi Wakil Ketua Komisi II Kristian Tandabioh bersama anggota lainnya, yakni Fakrudin, dan Sapiudin.Hadir pula pelapor, pemilik lahan, pekerja, sopir truk, dan instansi terkait.

Hasilnya, seluruh pihak sepakat mendorong legalisasi aktivitas pertambangan melalui skema Izin Pertambangan Rakyat (IPR).

Langkah ini dinilai bukan sekadar solusi administratif, tetapi juga sebagai upaya meredam konflik yang berpotensi berkepanjangan.

DPRD Konawe juga mendesak pemerintah daerah segera mengusulkan kawasan DAS Konaweeha kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara agar ditetapkan sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).

Penetapan status tersebut menjadi dasar hukum bagi penerbitan IPR sekaligus memberikan kepastian bagi para penambang. Kesepakatan ini menjadi titik jeda dari konflik yang sempat memanas.

FORKASA sebagai pelapor menyatakan komitmennya untuk mencabut laporan di kepolisian sebagai bagian dari hasil RDP.

Meski demikian, upaya menuju legalitas penuh dan pembenahan tata kelola pertambangan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Usai rapat, Ketua Komisi II DPRD Konawe, Eko Saputra Jaya, menegaskan bahwa langkah lanjutan akan difokuskan pada percepatan pembentukan Wilayah Pertambangan Rakyat.

Politisi muda itu menyebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan apakah kawasan aliran Sungai Konaweeha telah masuk dalam wilayah pertambangan.

Jika belum, DPRD akan mendorong usulan tersebut kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) dan pemerintah provinsi.

Eko juga menekankan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap pasir Konaweeha sangat tinggi. Sungai tersebut menjadi sumber utama material bagi berbagai kebutuhan pembangunan.

“Jika tidak ada suplai dari Konaweeha, maka pembangunan akan terhambat. Karena itu, DPRD mendukung penuh pembentukan Wilayah Pertambangan Rakyat guna memudahkan penerbitan IPR,” ujarnya.

Lebih lanjut, DPRD Konawe berkomitmen mengawal proses pengurusan izin hingga ke tingkat provinsi. Dalam waktu dekat, pihaknya akan berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk memetakan kondisi sungai, sekaligus mengumpulkan para penambang guna bersama-sama mengurus legalitas.

“Kami akan dampingi dan kawal proses ini sampai tuntas, agar para penambang memiliki izin resmi dan aktivitas bisa berjalan sesuai aturan,” pungkas Eko.

Laporan: Redaksi

admin

Recent Posts

Perkuat Kamtibmas, Kapolresta Kendari Gelar Safari Subuh di Masjid Baitul Izzah Baruga

Muarasultra.com, KENDARI - Dalam upaya mempererat silaturahmi sekaligus menjaga kondusifitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas),…

18 menit ago

Kebakaran Lahan 5 Hektare di Tadoloiyo Trans Konawe Utara, Polisi Bersama Masyarakat Lakukan Pemadaman

Muarasultra.com, KONAWE UTARA – Kebakaran lahan terjadi di Desa Tadoloiyo Trans, Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe…

23 menit ago

Dari Sultra ke Sulteng, Menhub Lantik Capt. Sorindra Jadi Kepala KUPP Bungku

Muarasultra.com, KENDARI - Menteri Perhubungan (Menhub) Republik Indonesia (RI), Dudy Purwagandhi kembali melantik sejumlah pejabat…

44 menit ago

CERI : Dirut Pertamina Diduga Berbohong Penyebab Kelangkaan BBM di Bali

Muarasultra.com, JAKARTA – Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) meragukan penjelasan Direktur Utama PT…

59 menit ago

Polres Konsel Kerahkan Tiga Polsek, Wakapolres Turun Langsung Pastikan Siswa Dapat Penanganan Medis

Muarasultra.com, KONAWE SELATAN - Kepolisian Resor (Polres) Konawe Selatan mengerahkan personel dari tiga kepolisian sektor…

5 jam ago

Proyek Banjir Konaweeha Rp12,9 Miliar di Konawe Disorot, Debu Ganggu Warga dan Material Diduga Ilegal, Polisi Diminta Bertindak

Muarasultra.com, KONAWE - Proyek Pengendalian Banjir Sungai Konaweeha di desa Langgonawe, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe,…

16 jam ago