Opini : Politik di Era Digital

oleh -96 Dilihat
oleh
Ketua Umum Kohati Badko Sultra, Yunita Sri Wahyuni

Muarasultra.com, KONAWE – Kehidupan berdemokrasi di suatu negara salah satunya ditentukan oleh seberapa besar partisipasi politik dari masyarakatnya. Partisipasi itu akan tampak ketika masyarakat ikut terlibat secara aktif dalam kehidupan berpolitik. Contohnya, ketika pemilihan presiden, kepala daerah, atau saat memilih wakil-wakil mereka yang akan duduk di kursi parlemen, baik di pusat maupun di daerah.

Dunia kini tengah bergerak menuju ke satu era, sebuah erah baru yang sama sekali berubah dari masa tiga empat dekade sebelumnya. Era yang telah mengubah cara pandang seseorang dalam menjalani kehidupan yang sangat canggih saat ini, membuat manusia memasuki gaya hidup baru yang tidak bisa dilepaskan dari perangkat yang serba elektronik. Di era ini teknologi menjadi alat yang membantu kebutuhan manusia. Dengan teknlogi apapun dapat di lakukan dengan lebih muda. Ini era digital yang di mana peradaban telah memasuki era digital.

Di era yang paling mutakhir inilah, teknologi digital menjadi sebuah kebutuhan yang tak bisa dielakkan dalam realitas umat manusia modern. Berbagai aktifitas, tak lepas dari kehadiran teknologi. Teknologi menjadi keniscayaan dalam kehidupan manusia.

Kehadiran teknologi ini, bagaimanapun, telah mengubah masyrakat dan membawahnya melawan beberapa fase peradaban. Perubahan budaya masyarakat yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi, dalam ranah teoritis , berada dalam lingkup determinisme teknologi. Teori-teori dalam wilayah ini bertitik tolak dari asumsi yang menyatakan bahwah teknologi mendorong terjadinya perubahan sosial. Tak heran, media komunikasi sebagai salah satu bentuk teknologi juga mempunyai potensi.

Sebut saja, ada perubahan pola dan gaya hidup masyarakat, menciptakan perubahan sosial dalam pola komunikasi dalam masyarakat, hingga terciptanya komunitas atau masyarakat maya. Selain itu, pengaruh teknologi komunikasi pun dapat merambah kedunia ekonomi dan budaya masyarakat.

Teori determinisme teknologi memiliki beberapa variasi. Berbagai variasi teori itu sama-sama mengasumsikan terjadinya perubahan besar akibat kehadiran teknologi. Namun terdapat variasi tema dalam penekanan dampak sosial maupun budaya teknologi yang menjadi pemicunya.

Dalam konteks komunikasi, ada tiga buah teori dalam pandangan Straubhaar dan Larose yang memperlihatkan variasi penekanan determinisme teknologi, yaitu medium is the massage, teknologi sebagai daya dorong dominan, dan media drive culture.

Pertama, adagium “medium is the message” merupakan teori komunikasih Marshall Mcluhan yang terkenal dalam Understanding the media (1964), yang kini menjadi karya klasik, Mcluhan tidak sekedar menyepakati proposisi yang menyatakan bahwah teknologi komunikasi yang baru menentukan budaya masyarakat. Lebih jauh, menurutnya “It is the from of the media, rather that their content, that matters.

Kedua, teknologi sebagai daya dorongfaktor sosial yang paling utama, teknologi dalam rumpung tech- nological determinism, diyakini memiliki pengaruh besar. Tak hanya dalam tataran otomasiindustri maupun kebiasaan individu, teknologi juga memiliki andil besar dalam menubah perilaku sosial-budaya masyarakat.

Ketiga, media drive culture, munculnya teknologi mengubah gaya hidup masyarakat. Puncaknya saat ini adalah dengan munculnya digitalisasi dan internet, mulai generasi pertama komputer, penemuan jaringan web, hingga merajainya media sosial. Kemudian lahir sebuah determinologi baru , “media baru” (new media).media baru merupakan perkembangan teknologi media dan telekomunikasi yang paling mutakhir. Kunci utama yang membedakan dengan media tradisonal adalah pada karakteristik “digitalization and convergence”, interactivity” serta neteorks and networking.

Transformasi internet telah berlangsung dalam tiga gelombang. Joseph R. diminick mencirikan gelombang pertama sebagai we 1.0 (1995-2003). Netizen (penguna internet), pada umumnya, menjadi konsumen yang pasif dalam mengonsumsi teks-teks yang sudah disediakan oleh produsen konten, sifatnya statis . pada glombang kedua, Web 2.0, ciri yang kentara ada pada proses sharing dan klaborasi. Ini membuat netizen menjadi lebih aktif sebagai produsen konten. Sedangkan pada glombang ke tiga ialah Web 3.0. ini di cirikan munculnya media sosial yang dengan segera mengubah rutinitas publik sebagai pengguna media.

Di Indonesia, berdasarkan data yang dihimpun dari weAreSocial pada februari 2022, pengguna internet indonesia mencapai 204,7 juta orang dari total jumlah penduduk 277,7 juta jiwa, dengan pengguna media sosial sebanyak 191,4 juta. Dibandingkan tahun sebelumnya di bulan januari 2021, ada kenaikan 1 persen atau 2,1 juta pengguna internet di indonesia.

Dalam dunia politik, kata Yunita Sri Wahyuni, anak-anak muda merupakan aset berharga dan menjadi incaran partai-partai politik. Ini lantaran Generasi Z dan Generasi Milenial merupakan kekuatan tersendiri yang harus direbut suaranya di dalam kontestasi pemilihan, baik pemilihan pemimpin negara, kepala daerah, atau saat memilih wakil rakyat.

Penetrasi internet di Indonesia saat ini telah menjangkau 196,7 juta penduduk berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Kondisi ini membuat partai-partai politik berlomba-lomba menceburkan diri membangun kekuatan baru di ranah digital. Mereka kemudian masuk ke berbagai platform media sosial yang ada demi mendapatkan simpati anak-anak muda melek teknologi.

Pemanfaatan platform media sosial untuk kepentingan politik telah dirasakan manfaatnya oleh Hillary Brigitta Lasut. Anggota DPR RI termuda ini memakai berbagai platform media sosial sebagai wadah berkampanye dalam Pemilihan Legislatif 2019. Selain lebih murah, kehadiran media sosial, mampu menjangkau jauh lebih banyak pemilih muda.

Di mata Ketua Umum Kohati Badko Sultra Yunita Sri Wahyuni, kehadiran media sosial untuk meraih suara anak-anak muda untuk ikut berpartisipasi di dunia politik merupakan hal yang wajar di era teknologi digital. Dan ada yang harus diperhatikan oleh anak-anak muda saat ingin menyampaikan aspirasi politiknya di media sosial.

Belajar dari kasus bertebarannya informasi berupa berita bohong (hoaks) dalam Pemilihan Umum 2019, sangat diperlukan kehati-hatian dan langkah bijak dari Generasi Z dan Milenial. “Banyak bertebaran informasi tak benar ketika Pemilu 2019, mulai dari berita bohong, hasutan, ujaran kebencian, dan lainnya. Diperlukan kesantunan di dalam berpolitik di media sosial terutama bagi anak-anak muda. Saring dulu sebelum sharing dan lakukan tabbayun, mengecek terlebih dulu kebenaran suatu informasi.

Penulis: Ketua Umum Kohati Badko Sultra, Yunita Sri Wahyuni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.